QS. AS-SAFFAT · 99–113
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail
15 ayat · ± 2 menit baca
Doa memohon keturunan
Setelah kaumnya menolak dakwahnya, Ibrahim berkata bahwa ia akan pergi menuju Tuhannya, dan Dialah yang akan memberinya petunjuk.
Di perantauan ia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang saleh.”
Allah mengabulkan doanya dengan kabar gembira: seorang anak yang sangat santun, yaitu Ismail.
Mimpi seorang ayah
Ketika Ismail telah cukup besar untuk berjalan dan bekerja bersama ayahnya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”
Jawaban Ismail menunjukkan iman yang luar biasa: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ujian yang nyata
Keduanya berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Ibrahim membaringkan putranya dengan pelipis di atas tanah, siap melaksanakan perintah.
Saat itulah Allah memanggil, “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” Demikianlah Allah membalas orang-orang yang berbuat kebaikan.
Peristiwa itu adalah ujian yang benar-benar nyata. Allah lalu menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Pujian yang abadi
Allah mengabadikan pujian bagi Ibrahim di kalangan generasi sesudahnya: “Salam sejahtera bagi Ibrahim.” Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, karena ia termasuk hamba-hamba Allah yang beriman.
Allah juga memberinya kabar gembira tentang kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.
Allah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan Ishaq. Di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik, dan ada pula yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri. Kemuliaan tidak diwarisi, melainkan diraih dengan amal.
Dikisahkan ulang dari ayat Al-Qur'an (terjemahan Kemenag, Tafsir Al-Mukhtashar) dan hadits riwayat al-Bukhari serta at-Tirmidzi.