QS. HUD · 25–49

Kisah Nabi Nuh dan Banjir Besar

25 ayat · 1 hadits · ± 4 menit baca

Babak 1 · QS. 11: 25–26

Seruan kepada kaumnya

Allah mengutus Nuh kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan yang nyata. Pesannya sederhana dan tegas: jangan menyembah selain Allah. Ia khawatir kaumnya akan ditimpa azab pada hari yang sangat pedih.

Dalam hadits syafaat, Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa pada hari kiamat manusia datang kepada Nuh dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah menamaimu hamba yang banyak bersyukur.” HR. al-Bukhari 4759

Babak 2 · QS. 11: 27–31

Bantahan para pemuka

Para pemuka yang kafir menolak dengan alasan-alasan dangkal. Menurut mereka Nuh hanyalah manusia biasa seperti mereka, pengikutnya hanyalah orang-orang rendahan yang ikut-ikutan tanpa berpikir, dan mereka tidak melihat kelebihan apa pun pada Nuh dan para pengikutnya. Bahkan mereka menuduhnya berdusta.

Nuh menjawab dengan sabar. Jika ia membawa bukti nyata dan rahmat dari Tuhannya, sementara kaumnya tidak dapat melihatnya, apakah mereka harus dipaksa menerimanya padahal mereka membencinya?

Ia tidak meminta upah apa pun atas dakwahnya, karena pahalanya hanya dari Allah. Ia juga menolak mengusir orang-orang beriman yang dipandang hina oleh para pembesar itu. Siapa yang akan menolongnya dari Allah jika ia mengusir mereka?

Nuh tidak mengaku memiliki perbendaharaan Allah, tidak mengaku mengetahui yang gaib, dan tidak mengaku sebagai malaikat. Ia juga tidak akan mengatakan bahwa orang-orang yang mereka hina tidak akan mendapat kebaikan dari Allah, karena Allah lebih mengetahui isi hati mereka.

Babak 3 · QS. 11: 32–35

Menantang azab

Kaumnya mulai jengah. “Wahai Nuh, engkau sudah berbantah dengan kami dan memperpanjang bantahanmu. Datangkanlah azab yang kauancamkan itu, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Nuh menjawab bahwa hanya Allah yang akan mendatangkan azab itu jika Dia menghendaki, dan tidak ada yang dapat lolos darinya. Nasihatnya pun tidak akan berguna bagi orang yang Allah kehendaki tersesat. Dialah Tuhan mereka, dan kepada-Nya mereka akan kembali.

Di tengah kisah ini Allah menyinggung kaum musyrik Makkah yang menuduh Nabi Muhammad ﷺ mengarang Al-Qur’an. Beliau diperintahkan menjawab: jika ia mengarangnya, dialah yang menanggung dosanya, dan ia berlepas diri dari dosa yang mereka perbuat.

Babak 4 · QS. 11: 36–39

Membangun bahtera

Allah mewahyukan kepada Nuh bahwa tidak akan ada lagi kaumnya yang beriman selain yang sudah beriman. Ia diminta tidak bersedih atas perbuatan mereka.

Nuh diperintahkan membuat bahtera di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu Allah, dan tidak lagi memohonkan keringanan bagi orang-orang yang zalim, karena mereka pasti akan ditenggelamkan.

Setiap kali para pembesar kaumnya lewat, mereka mengejek Nuh yang membangun kapal. Nuh menjawab bahwa sebagaimana mereka mengejek sekarang, kelak merekalah yang akan diejek, dan mereka akan tahu siapa yang ditimpa azab yang menghinakan dan azab yang kekal.

Babak 5 · QS. 11: 40–44

Air bah datang

Ketika perintah Allah datang dan air memancar dari tanur, Nuh diperintahkan memuat ke dalam bahtera sepasang dari setiap jenis hewan, keluarganya kecuali yang telah ditetapkan binasa, serta orang-orang yang beriman. Namun yang beriman bersamanya hanya sedikit.

“Naiklah kalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah ketika berlayar dan berlabuh,” seru Nuh. “Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bahtera berlayar di tengah gelombang setinggi gunung. Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat terpencil, “Wahai anakku, naiklah bersama kami, jangan bersama orang-orang kafir.”

Anaknya menolak dan berkata akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkannya dari air. Nuh menjawab bahwa hari itu tidak ada pelindung dari ketetapan Allah kecuali bagi orang yang Dia rahmati. Gelombang pun memisahkan keduanya, dan anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Lalu Allah berfirman, “Wahai bumi, telanlah airmu. Wahai langit, berhentilah.” Air pun surut, perkara itu selesai, dan bahtera berlabuh di atas Gunung Judi. Dikatakan, “Binasalah kaum yang zalim.”

Babak 6 · QS. 11: 45–49

Doa seorang ayah

Nuh memohon kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, anakku termasuk keluargaku, dan janji-Mu pasti benar. Engkaulah hakim yang paling adil.”

Allah menjelaskan bahwa anak itu bukan termasuk keluarga yang dijanjikan selamat, karena perbuatannya tidak baik. Nuh dinasihati agar tidak memohon sesuatu yang tidak ia ketahui hakikatnya.

Nuh segera memohon perlindungan dan ampunan: ia berlindung kepada Allah dari meminta sesuatu yang tidak ia ketahui. Tanpa ampunan dan rahmat-Nya, ia akan termasuk orang-orang yang merugi.

Nuh lalu diperintahkan turun dari bahtera dengan keselamatan dan keberkahan, bersama umat-umat beriman yang menyertainya. Ada pula umat-umat yang akan diberi kesenangan dunia, lalu ditimpa azab yang pedih.

Allah menutup kisah ini dengan pesan kepada Nabi Muhammad ﷺ: ini adalah berita gaib yang sebelumnya tidak diketahui olehnya maupun kaumnya. Bersabarlah, karena kesudahan yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa.

Hadits terkait

Kisah berikutnya Kisah Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala QS. Al-Anbya · 51–73

Dikisahkan ulang dari ayat Al-Qur'an (terjemahan Kemenag, Tafsir Al-Mukhtashar) dan hadits riwayat al-Bukhari serta at-Tirmidzi.